slider

Navigation

MENANGISLAH BILA MEMANG HARUS MENANGIS

 “Menangislah bila harus menangis Karena kita semua manusia Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis, dan manusia pun bisa mengambil hikmah”
(Petikan lagu Dewa19) Sebagaimana petikan dari lirik lagu Dewa 19 di atas adalah wajar bila kita menangis, karena menangis adalah salah satu fitrah kemanusiaan. Pekerjaan pertama kita saat terlahir di dunia adalah menangis, ini menunjukan bahwa menangis adalah hal fitrah kemanusiaan, sehingga mamaksakan diri untuk tidak menangis berarti menampik fitrah kita sebagai manusia.

Dengan menangis, energi kemarahan dan kekesalan dan berbagai energi negatif lainnya yang diproduksi fikiran saat mengalami hal yang kurang menyenangkan lepas, keluar dari dalam diri kita. Seorang anak kecil yang terjatuh saat belajar berjalan atau karena hal-hal lainnya hal, akan menangis untuk melepaskan rasa kecewanya, setelah itu ia kembali nyaman dan kemudian tertawa dan berlari-lari kembali. Tangisan merupakan mekanisme alamiah yang Tuhan tetapkan dalam diri manusia baik laki-laki ataupun perempuan.

Menangis itu sehat.
Selama dan setelah menangis, pernafasan kita biasanya lebih “plong” dan lebih dalam, sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat. Hal ini akan membuat mental dan fisik terasa lebih kuat. Melihat banyaknya manfaat dari tangisan, para peneliti di AS kini merekomendasikan terapi menangis
untuk orang-orang tertentu, terutama mereka yang punya kesulitan dalam mengekspresikan emosinya
Secara medis,menangis dianggap bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin

Berdasarkan Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan, 9 dari 10 orang mengaku merasa lebih lega setelah menangis.

Tentang menangis ini Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University menyatakan "Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata," kata.

Sementara itu Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, berpendapat bahwa air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.

Pada saat menangis, beban emosi yang tertahan akan muntah bersamaan dengan “sesunggukan” dan air mata.Endapan energi negatif akan terlepas ke alam semesta bersamaan dengan terurainya air mata. Saat itu pula system emosional–mental kita menyeimbangkan dirinya sendiri. Pikiran akan kembali berisi materi yang seimbang.

Menangis dalam Alqur`an
Setelah didahului dengan kisah tentang hijrahnya Bani Israil dari kejaran Fir`aun (Q.s. 44 :23-28), selajutnya Qur`an menyatakan dalam ayat berikutnya ( Q.S.23 : 29) ” maka langit dan bumi tidak menangisi mereka (orang-orang yang zhalim) , dan tidak pula mereka diberi penangguhan waktu.” berkenaan dengan ayat tersebut dalam sebuah pengajiannya Ustadz Bakrin salah seorang guru saya menyatakan bahwa dalam ayat ini disebutkan bahwa alam semesta tidak mau menangisi orang yang zhalim. Saat ditanyakan apakah artinya selain orang zhalim alam semesta menangisi mereka, ustadz menyatakan ”Ya.”

Tangisan merupakan mekanisme penyeimbang yang Tuhan ciptakan dan takdirkan atas makhluk-makhluknyadan seluruh semestaNya tak terkecuali manusia. Dalam fitrah kemanusiaannya, bahkan para Nabi pun tak luput dari menangis, tentang hal ini Qur`an menyampaikan kisahnya :
”Dan Ya`kub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata :” Aduhai duka citaku terhadap Yusuf.’ Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.”
Disamping itu, tangisan dapat pula dijadikan sebagai jalan untuk mengekspresikan rasa penyesalan kita, sebagai pernyataan revolusi diri, taubat atau berubah untuk menjadi makhluk yang lebih baik sebagaimana firmanNya dalam alQur`an :
” Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis.” ( Q.S: 9 :82 )

Itulah sebabanya barangkali mengapa para sufi seringkali menggunakan tangisan sebagai jembatan taubat mereka pada Ilahi, bagi mereka banyak tertawa dianggap sebagai suatu perbuatan yang akan mengeraskan hati,sementara banyakmenangis itu akan melembutkan hati, dalam konteks sufisme menangis merupakan suatu kendaraan menuju Tuhan Sang Pencipta.

Menangis bisa membuatmu kuat
Dalam istilah Sunda ada yang namanya “Ceurik Batin” atau “Menangis Batin”. Salah seorang guru silat saya pernah dihina keluarganya karena miskin, lalu ia menangis dan bermunajat pada Ilahi. Tangisan itu kemudian membuatnya bangkit. Ya, sebuah tangisan memang sering melahirkan inspirasi dan menguatkan mental. Energi spiritual yang dahsyat sering muncul manakala seseorang sudah bisa menangis. Seperti yang kang Anang (guru saya) alami. Menangis bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan dan membuatnya kuat menghadapi berbagai kesulitan demi kesulitan hingga mencapai kemenangan yang diharapkan. Setahun setelah “Ceurik Batin”ini, ia bangkit sebagai seorang pedagang sukses dengan omset jutaan bahkan puluhan juta perhari.

Saat menangis, energy-energi negatif yang muncul dari rasa kecewa, rasa marah , pesimistis dan lain sebagainya, keluar dari tubuh kita bersamaan dengan meluapnya airmata kita, bersamaan dengan itu energy baru akan masuk dari alam semesta, itulah sebabnya tangisan itu bisa menguatkan diri kita.

Tersebutlah Imam Ali zainal `Abidin , seorang Imam ahlul bait yang terkenal banyak menangis. Putera Al Husein cucu Nabi Muhammad ini, menyaksikan langsung bagaimana ayahnya Al Husein dan saudara-saudaranya dibantai dan kemudian disembelih dihadapan wajah beliau di sebuah tempat bernama Nainawa (Kuffah) .Sejak peristiwa tersebut, beliau dikenal banyak menangis, dalam sebuah riwayat beliau bahkan menangis dalam keadaan sujud hingga berjam-jam, dari mulut ikhlasnya terucap sanjungan dan pujian pada ilahi, sebagaimana yang sebuah doa masyhur yang etrucap darimulut beliau ,” Ilahi…..banyaknya nikmat yang Engkau turunkan malah membuatku banyak lupa padaMu…. Berbagai kebaikan yang Kau curahkan malah membuat lidahku kelu untuk menghitungknya…Ilahi…. Bagaimana mungkin aku dapat bersyulkur padaMu sementara syukur kami padaMu membutuhkan sukur lagi…”.Saat ditawan oleh pasukan Yazid, beliau digiring sejauh berpuluh-puluh mil dari kota Kuffah ke Damaskus dalam kondisi berjalan tertatih-tatih penuh derita dan kehausan itu pun beliau masih tetap bersyukur, dengarlah jerit tangisnya di malam sunyi,” Ilahi….. inilah aku yang membalas berbagai kebaikan dari Mu dengan pembangkanganku.” Dalam penderitaan dan berbagai kesulitan hidupnya, beliau masih bersyukur pada Tuhan, sebuah pribadi yang teramat kuat.

Demikianlah, menangis itu bisa menguatkan diri kita. Karena itu menangislah pada Tuhanmu, biarkan Dia membasuh airmata di wajah anda. Dengan menangis anda akan lebih lega sehingga kekuatan spiritual anda akan terjernihkan kembali. Dan janganlah malu untuk menangis dihadapan Tuhan, karena bila anda menangis dan mengeluh dihadapan manusia anda hanya akan dianggap sebagai orang yang cengeng, tetapi bila anda menangis dihadapan penciptamu yang maha Kasih, maka Dia akan memahamimu dan memelukmu dengan penuh Kasih, akuilah kelemahanmu, maka Dia akan kembali menguatkanmu, akuilah ketidakmmampuanmu maka Dia akan membuatmu mampu.








Share
Banner
Reactions

Rustadi

Hidup adalah Pengabdian. Pengabdian dengan kerja Keras Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas

Post A Comment:

1 comments:

  1. mantap kakak,,,,Apabila jiwa ini Galau Menangis pada yang maha hidup akan membuat kita tenang

    BalasHapus